DIFABEL atau disebut BERKALA

Orang timur termasuk bangsa Indonesia, untuk menyebut sesuatu atau memberi nama pasti sangat memperhatikan makna arti kata-kata atau istilah-istilah untuk menyebutnya, seperti nama orang, nama gedung, nama jalan dan sebagainya. Hal itu memperhatikan etika, estetika dalam rasa, karsa dan cipta yang selaras, seimbang dan serasi dalam hidup dan kehidupan.

Oleh karena itu, lebih tepat untuk istilah penyandang cacat adalah DIFABEL (difference ability), karena maknanya mereka “berkemampuan lain” (disingkat : BERKALA) bukan penyandang aib atau “cacat”. Misal : ia tidak dapat melihat, tidak dapat bicara atau tidak dapat berjalan sebagaimana orang pada umumnya, tetapi ia melihat, berbicara atau berjalan sesuai kemampuan kondisi yang ada pada dirinya  karena ada kendala yang bersifat fisik atau mental, bahkan ada yang berkendala fisik dan mental (tuna ganda).

Pemakaian istilah atau pemberian nama menjadi sangat bermakna, seperti halnya penyandang cacat memberi stigma negatif tetapi realita hidup yang harus dihadapi. Perlu diingat nasib seseorang tidak akan berubah manakala dirinya sendiri tidak mau berupaya untuk mengubah nasib dirinya sendiri dan tentu mendapat ridho Allah, amin.

Bersemangatlah para “difabel” atau “berkala”, dan diucapkan terimakasih dan penghargaan setinggi-tingginya bagi para pemerhati difabel (berkala) semoga Allah membalas budi baik bapak/ibu/saudara, amin.

//tegarsehat.wordpress.com/